DENPASAR, KOMPAS.com - Kepolisian Daerah Bali mengaku personel yang bertugas saat terjadi bentrok antara warga Desa Kemoning dan Desa Budaga, Kabupaten Klungkung, Sabtu, hanya melepaskan tembakan dengan peluru karet.
Seperti diberitakan, bentrokan ini telah menewaskan Ketut Ariaka (56) yang hingga kini penyebab kematiannya belum diumumkan secara resmi. Ada dugaan Ariaka terkena tembakan peluru "nyarar". Jenasah korban kini masih berada di kamar mayat RSUD Sanglah, Denpasar.
Kepala bidang Humas Polda Bali Kombes Hariadi di Denpasar, Senin (19/9/2011) menjelaskan, saat bentrokan para personel Polda Bali memang melepaskan tembakan menggunakan peluru karet ke arah bawah, yang dipantulkan ke jalan untuk menghalau massa.
"Itu bukan peluru nyasar. Tembakan yang dilakukan personel saat itu memang untuk menghalau massa yang dipantulkan ke bawah, dan mungkin memantul ke atas," ujarnya.
Hariadi juga mengatakan, meski polisi telah melepaskan tembakan, namun berdasarkan keterangan forensik RSUD Sanglah, Denpasar, pada bagian kepala yang terluka tidak ditemukan peluru. "Jadi memang belum jelas, apakah korban ini terkena tembakan dari personel polisi atau bukan. Karena pelurunya tidak ditemukan oleh dokter," ujarnya.
Sementara itu, saat ini masih ada tujuh orang warga Kemoning dan Budaga yang menjalani pemeriksaan polisi berdasarkan alat bukti yang ditemukan, seperti pedang, pisau, samurai, bambu runcing, dan tombak. "Tujuh orang masih kami periksa berdasarkan alat bukti, tapi belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka," ujarnya.
Sebelumnya, bentrokan yang dipicu karena perebutan pura dalem, kuburan (setra), dan pura di dalam kuburan (prajapati) telah terjadi sejak beberapa waktu lalu hingga memunculkan pengerahan massa dua desa tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang